Lombok mempunyai berbagai banyak keberagaman sejarah
budaya, adat-istiadat, sampai dengan memiliki ciri dan kekhasan masing-masing
di suatu daerah. Sejarah adalah akar dari cerminan bagi generasi muda untuk
berkaca akan kemana dan bagaimana sejarah itu lahir, karena sejarah adalah
bukti peradaban manusia di muka bumi. Generasi selanjutnya akan memiliki
peranan penting dan dihadapkan pada dua pilihan, pertama, akankah harus diam
menonton sejarah yang dimulai sudah hilang, atau kedua, sebaliknya mereka
mempertahankan dan melestarikan sejarah yang sudah mulai hilang dan menjadi
bukti dari peradabannya sendiri.
Setiap daerah yang ada di lombok Nusa Tenggara Barat
memiliki catatan sejarah tersendiri, suku sasak yang terkenal dengan keramahan
manusianya dan keindahan alamnya menawarkan kita semakin jauh untuk mengetahui
sejarahnya. Di penghujung tahun yang lalu tepatnya pada 26 Desember 2015 di
bumi sasak lahir sebuah sejarah sebagai bentuk protes atas kegelisahan,
kegundahan, keresahan, dan gejolak batin yang mendarah daging dalam benak para
putra daerah. Mereka menganggap kebudayan saat ini sudah jauh melenceng dari
sebelumnya dan mulai disalah gunakan untuk kepentingan penguasa semata. Menurut
Bapak Murahim, S.Pd.,M.Pd. salah satu dosen Program Studin Pendidikan Bahasa
dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Mataram, dan beliau juga selaku orang
atau tokoh sejarah yang ikut andil bagian untuk mendampingi pembacaan piagam
Gumi Sasak mengatakan bahwa lahirnya piagam tersebut dikarenakan adanya
masalah-masalah kebudayaan yang membolak-balikkan kebudayaan oleh kepentingan
penguasa. Dan dari sinilah lahir kesepakatan dari tokoh-tokoh kebudayaan, tokoh
agama serta berbagai tokoh masyarakat sasak untuk memperbaiki dan melindungi
kebudayaan sehingga lahirlah sebuah hasil kesepakatan yang di kenal dengan nama
“PIAGAM GUMI SASAK” Sebagai bentuk pernyataan orang-orang sasak adalah orang
yang merdeka.
Perjalanan sejarah bangsa sasak yang di warnai oleh bencana menenggelamkan, mengaburkan, dan
menistakan keluhuran budaya sasak. Berbagai catatan penekana, pendangkalan
makna, pengetahuan jati diri, sampai dengan pembohongan sejarah dengan berbagai
kepentingan para penguasa yang masih berlangsung hingga saat ini, melalui pencintraan
dengan perspektif dan kepentingan kolonialisme dan impreialisme modern. Hal ini
lah yamg membuat bangsa ini menjadi bangsa inferior yang tak mampu tegak di
antara bangsa-bangasa lain dalam rangka menegakkan amanat kefitrahannya sebagai
bangsa.
Dalam hal ini kami sebagai anak-anak penerus bangsa
sadar akan hal tersebut, kami anak-anak bangsa sasak pengumumkan PIAGAM GUMI
SASAK Sebagai berikut :
- Pertama: berjuang bersama menggali dan menegakkan jati diri bangsa sasak demi kedaulatan dan kehormatan budaya sasak.
- Kedua :berjuang bersama memelihara, menjaga dan mengembangkan khazanah intelktual bangsa sasak agar terpelihara kemurniannya, keindahannyan sesuai dengan roh budaya sasak.
- Ketiga : berjuang bersama menegakkan harkat dan martabat bangsa sasak melaui karya-karya kebudayaan yang membawa banngsa sasak menjadi bangsa yang maju dan menjunjung tinggi nilai religiusitas dan tradisional.
- Keempat : berjuang bersama membangun citra sejati bangsa sasak baru dengan kejatidirian yang kuat untuk menghadapi tantangan peradaban masa depan.
- Kelima : berjuang bersama dalam satu tatanan masyarakat adat yang egaliter, bersatu dan berwibawa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Mataram , 14
Mulut Tahun Jenawat /1437 H 26 Desember 2015 Ditandatangani bersama kami,
- Drs. Lalu Azhar
- Drs. Haji Lalu Mujtahid
- Drs. Lalu Baiq Windia M.Si
- TGH. Ahyar Abduh
- Drs. Haji Husni Mu’adz MA., Ph.D
- Dr. Muhammad Fajri, M.A
- Dr. Jamaludin, M. Ag
- Dr. Lalu Abd. Kholik, M.Hum.
- Drs. H.A. Muhit Ellepaki, M.Hum
- Dr.H. Sudiman M.Pd
- Dr.H.L., Agus Fathurraman
- Mundzirin
- L.Ari Irawan, SE.,S.PD.,M.Pd.
Piagam Gumi Sasak dibacakan pertama
kali pada tanggal 26 Desember 2015 oleh Dr. Muhammad Fadjri di Museum Negeri
NTB yang dihadiri oleh tokoh-tokoh agama, tokoh adat dan lain sebagainya. Dari
pembacaan tersebut tidak jarang terjadi hujan air mata dari para tokoh
masyarakat yang hadir. Bumi sasak adalah sebuah jati diri yang di pertahankan
sampai mati.