Sabtu, 30 Desember 2017

BUDAYA SASAK PRESEAN KEREN BANGET


057  ‘’Presean Pertarungan ketangkasan kejantanan pria’’

       Stick Figting atau Tarung Presean disebut sebagai simbolis kejantanan bagi pemuda dan pria suku sasak di Lombok. Pertarungan adu nyali atau kejantanan ini merupakan pertarungan antara dua laki-laki, persenjataan yang dipakai yaitu tongkat yang terbuat dari rotan atau di sebut penjalin, dilengkapi dengan sebuah pelindung (perisai) yang terbuat dari kulit kerbau tebal dan keras. Para Petarung di sebut Pepadu, sedangkan yang menjadi pemimpin pertarungan disebut Pekembar.
       Para petarung (pepadu) bertemu di tengah lapangan dengan bertelanjang dada, menggunakan sapuk (penutup kepala khas sasak) dan kain sarung khusus yang sudah dipersiapkan panitia. Sebuah tongkat dari rotan sebagai alat memukul dipegang menggunakan tangan kanan, serta pelindung (perisai) di tangan kiri. Para pepadu atau petarung pun siap mengadu kejantanan, ketangkasan dan adu nyali di depan ratusan penonton yang hadir di area Presean. Pemimpin pertandingan atau pekembar akan memimpin tarung presean dengan awiq-awiq (aturan dan kode etik) yang sudah ditetapkan, biasanya aturan mainnya berisi tentang system ronde (periode pertarungan) yang sudah di tetapkan sebelumnya oleh panitia.
     Tarung Presean merupakan kesenian khas sasak Lombok yang dulunya bermula sebagai sebuah simbolis kegembiraan atau luapan emosi para prajurit Lombok dulu kala setelah berhasil melumpuhkan, mengalahkan lawan di medan tempur. Budaya presean ini kemudian menjadi sebuah tradisi yang memiliki keunikan sendiri ketika para Pepadu-nya memadukan gaya bela diri dengan ekspresi-eskpresi lelucon ketika berhasil menyisakan bekas sabetan rotan di tubuh lawannya. Seni beladiri atau adu ketangkasan Presean di Lombok biasanya di iringi oleh tabuhan musik Gendang Beleq sebagai penyemangat dan  pengundang masyrakat sekitar untuk menonton. Sambil menari-nari di iringi tabuhan gendang Beleq kedua pepadu akan saling menghalau dan mengalahkan lawan denngan pukulan penjalin tanpa rasa cemas atau pun takut cedera. Dan uniknya para peserta Presean tidak pernah dipersiapkan sebelumnya, para penonton dan siapapun yang sedang berada di medan acara boleh ikut bertarung dan memamerkan keahliannya dalam adu ketangkasan. Aturan main dari Tarung Presean ini juga biasanya tidak membingungkan, para pepadu hanya boleh memukul bagian perut ke atas. Ketika seorang pepadu terkena kepala oleh sabetan rotan dan mengeluarkan darah (bocor), maka pepadu dianggap KO atau kalah, sekalipun pepadu tersebut merasa masih bisa meneruskan pertarungan. Pertarungan di akhiri oleh pekembar dengan meniupkan peluit panjang, dan kedua pepadu kemudian akan bersalaman dan berpelukan mengakhiri masa bertanding. Ini sebagai tanda bahwa antara kedua pepadu tidak ada yang saling menyimpan dendam karena presean hanya bagian dari permainan dan hiburan. Tarung rotan (Stick fighting) dari tradisi pulau Lombok ini sudah dikenal masyarakat Sasak secara turun temurun. Konon,pertarungan Presean dulunya hanya di gelar sebagai bagian dari upacara adat atau ritual meminta hujan di musim kemarau atau acara besar kerajaan. Kini presean menjadi sebuah tradisi yang menjadi hiburan local yang diminati oleh para wisatawan, dan sebagai bentuk kepedulian pemerintah dalam melestarikan budaya daerah.

Sabtu, 23 Desember 2017

BUDAYA SASAK



Sorong Serah Aji Krama  
Sorong serah aji krama berasal dari kata sorong yang berarti mendorong dan serah yang berarti menyerahkan, jadi sorong serah merupakan suatu pernyataan persetujuan kedua belah pihak baik dari pihak perempuan maupun pihak laki-laki dalam prosesi suatu perkawinan antara terune (jejaka) dan dedare (gadis). Upacara sorong serah salah satu rangkaian upacara terpenting pada prosesi perkawinan adat. Sorong sera haji krama sendiri di wujudkan dalam bentuk uang (kepeng bolong) aji krama suci bersama piranti-piranti adat lainnya di serahkan oleh pembayun bersama rombongan ikut serta dalam rombongan seorang penghulu untuk meminta wali nikah kepada waris mempelai perempuan. Adapun prosesi perkawinan runutan adalah sebagai berikut:
1.       Mesejati
Mengandung arti bahwa dari pihak laki-laki mengutus beberapa orang tokoh adat untuk melaporkan kepada kepala desa atau keliang/kepala dusun untuk mempermaklumkan mengenai perkawianan tersebut tentang jati diri calon pengantin laki-laki dan selanjutnya melaporkan kepada pihak keluarga perempuan.
2.       Selabar
Mengandung maksud untuk mempermaklumkan kepada pihak keluarga calon pengantin perempuan yang ditindaklanjuti dengan pembicaraan adat istiadatnya meliputi aji kerama yang terdiri dari nilai-nilai 33-66-100 dengan dasar penilaian uang kepeng bolong atau kepeng jamaq, bahkan kadang-kadang acara selabar ini dirangkaikan dengan permintaan wali sekaligus.
3.       Mengambil wali
Yang dimaksud mengambil wali adalah mengambil wali dari pihak perempuan bisa langsung pada saat selabar atau beberapa hari setelah pelaksanaan selabar dan hal ini tergantung dari kesepakatan dua belah pihak (kapisuka).
4.       Mengambil janji
Dalam pelaksanaan mengambil janji ini adalah membicarakan seputar sorong serah dan aji kerama sesuai dengan adat istiadat yang berlaku di dalam desa atau kampong asal calon mempelai perempuan.
5.       Sorong serah
Roh atau inti dari pelaksanaan proses adat merariq ini adalah sorong sera haji kerama, proses ini merupakan pengumuman resmi secara adat bahwa perkawinan seorang laki-laki dan sorang perempuan yang di sertai dengan penyerahan peralatan mempelai laki-laki atau di kenal dengan piranti-piranti simbul adat. Sebab jika tidak dilaksanakan proses ini maka kedepannya akan timbul permasalahan baru secara intern.
6.       Nyongkolan
Dalam pelaksanannya nyongkolan keluarga pihak laki-laki disertai oleh kedua mempelai mengunjungi keluarga perempuan yang diiringi oleh kerabat dan handai taulan dengan mempergunakan pakaian adat diiringi gamelan bahkan gendang beleq.
7.       Bales ones nae (napak tilas)
Merupakan salah satu tradisi untuk berkunjumg kerumah orang tua perempuan secara khusus bersama kedua orang tua laki-laki.